TUGAS
TUTORIAL KE-1
PROGRAM
STUDI MANAJEMEN
|
Nama
Mata Kuliah
|
:
|
Manajemen
Rantai Pasokan
|
|
Kode
Mata Kuliah
|
:
|
EKMA4371
|
|
Jumlah
sks
|
:
|
3
sks
|
|
Nama
Pengembang
|
:
|
Ida
Ayu Made Er Meytha Gayatri, M.M
|
|
Nama
Penelaah
|
:
|
Andy
Mulyana, M.M
|
|
Status
Pengembangan
|
:
|
Baru
|
|
Tahun
Pengembangan
|
:
|
2019.2
|
|
Edisi
Ke-
|
:
|
1
|
|
No
|
Tugas Tutorial
|
Skor Maksimal
|
Sumber Tugas
Tutorial
|
|
1
|
Keberhasilan
manajemen rantai pasok memerlukan fungsi individual untuk menyatukan
aktivitas-aktivitas pada proses bisnis inti rantai pasok dan mengoordinasikannya.
Jelaskan proses bisnis inti dalam manajemen rantai pasok!
|
20
|
Modul 1 KB 1
|
|
2
|
Jelaskan kaitan
antara manajemen sediaan, manajemen logistik, dan manajemen distribusi fisik
|
20
|
Modul 2 KB 2
|
|
3
|
Pada
materi Modul 1 KB 2 dijelaskan mengenai pemain utama dalam manajemen rantai
pasok. Buatlah satu contoh kasus dalam suatu perusahaan untuk mengaplikasikan
materi tersebut.
|
60
|
Modul 1 KB 2
|
1.
Berikut akan diuraiakan proses-proses bisnis
inti manajemen rantai pasokan :
a.
Customer relationship management (CRM): langkah
pertama manajemen rantai pasokan adalah mengidentifikasi pelanggan utama atau
pelanggan yg kritis dengan misi dagang perusahaan. Rencana bisnis adalah titik
awal identifikasi. Tim pelayanan pelanggan (costuner service) membuat dan
melaksanakan program-program bersama, persetujuan produk dan jasa ditetapkan
pada tingkat kinerja tertentu untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Untuk pelanggan
baru, dikembangkan komunikasi dan prediksi yg lebih baik atas permintaan
pelanggan. Lalu tim costumer service bekerja sama dengan pelanggan
mengidentifikasi dan menghilangkan sumber-sumber variabilitas demand. Dan
terakhir para manajer mempelajari evaluasi-avaluasi tersebut untuk menganalisis
pelayanan seperti apa yg akan diberikan pada pelanggan tersebut juga keuntungan
yg akan diperoleh.
b.
Customer service management (CSM): sumber
tunggal informasi pelanggan yg mengurus persetujuan produk dan jasa. Customer
service memberitahukan pelanggan informasi mengenai tanggal pengiriman dan
ketersediaan produk berdasarkan informasi dari bagian produksi dan distribusi.
Pelayanan setelah penjualan juga perlu, intinya harus secara efesien membantu
pelanggan mengenai aplikasi dan rekomendasi produk.
c.
Demand management: proses ini harus
menyeimbangkan kebutuhan pelanggan dengan kemampuan suplay perusahaan,
menentukan apa yg akan dibeli pelanggan dan kapan. Sistem manajemen permintaan
yg baik menggunakan data point-of-sale dan data pelanggan “inti” untuk
mengurangi ketidak pastian dan aliran yg efesien melalui rantai pasokan.
d.
Customer demand fulfilment: proses penyelesaian
pesanan ini secara efektif memerlukan integrasi rencana kerja anatara p[roduk,
distribusi dan transportasi. Hubungan dengan rekan kerja yakni anggota primer
rantai pasokan dan anggota sekunder diperlukan untuk memenuhi kebutuhan
p[elanggan dan mengurangi total biaya kirim ke pelanggan.
e.
Manufacturing flow management: biasanya
perusahaan memproduksi barang lalu dibawa ke bagian distribusi berdasarkan
ramalan historik. Produk dihasilkan untuk memenuhi jadwal produksi. Sering kali
produk yg salah mengakibatkan persediaan yg tidak perlu, meningkatkan biaya
penanganan/ penyimpanan dan pengiriman produk terhambat. Dengan manajemen
rantai pasokan, produk dihasilkan berdasarkan kebutuhan pelanggan. Jadi barang
produksi harus fleksibel dengan perubahan pasar. Untuk itu diperlukan kemampuan
berubah secara cepat untuk menyesuakian dengan variasi kebutuhan massal. Untuk
mencapai proses produksi tepat waktu dengan ukuran lot minimum, manajer harus
berfokus pada biaya-boaya setup/ perubahan yg rendah termasuk merekayasa ulang
proses, perubahan dalam desainnproduk dan perhatian pada rangkaian produk.
f.
Procurement: membina hubungan jangka panjang
dengan sekelompok pemasok dalam arti hubungan win-win relationship akan
mengubah sistem beli tradisional. Hubungan ini adalah melibatkan pemasok sejak
tahap desai produk, sehingga dapat mengurangi siklus pengembangan produk serta
meningkatkan koordinasi antara engeneering, purchasing dan suooliuuer pada
tahap akhir desain. Untuk memepercepat transfer data dan komunikasi, pembelian
dapat dilakukan dengan menggunakan fasilitas EDI
g.
Pengembangan produk dan komersialisasi: untuk
mengurangi waktu masuknya produk ke pangsa pasar, pelanggan dan supplier
seharusnya ke dalam proses pengembangan produk. Bili siklus produk termasuk
singkat maka produk yg tepat dikembangkan dan di launching pada waktu singkat
dan tepat agar perusahaan kuat bersaing. Manajer pengembangan produk dan
komersialisasi seharusnya :
1)
Mengkoordinasikannya dengan CRM untuk
mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan oelanggan yg telah tertampung maupun yg
belum di tampung.
2)
Memilih material dan pemasok yg sesuai, yg
berhubungan dengan bagian procurement
3)
Mengembangkan teknologi produksi dan aliran
produksi untuk mengakses kemampuan produksi dan integrasi ke dalam aliran
rantai pasokan yg terbaik untuk penggabungan produk/pasar.
h.
Retur : proses manajemen retur yg efektif
memungkinkan kita mengidentifikasi produktivitas kesempatan memperbaiki dan
menerobos proyek-proyek agar dapat bersaing.
2.
Manajemen sediaan merupakan aktivitas
pengelolaan persediaan mulai dari penyediaan bahan baku dan bahan penolong,
kemudian disimpan untuk selanjiutnya ditransformasi menjadi barang jadi atau
barang setengah jadi. Manajemen distribusi fisik merupakan aktivitas pengiriman
produk setelah diproses, disimpan dalam gudang, diantarkan dan disimpan oleh
perantara sampai pada konsumen akhir. Sedangkan manajemen logistik adalah
penggabungan dari kedua aktivitas tersebut.
3.
a. Supplier (chain 1)
rantai pada pasokan dimulai dari chain 1,
yg mmerupakan sumber penyedia bahan pertama. Disini adalah tempat diaman mata
rantai penyaluran barang akan dimulai. Bahan pertama disini bisa dalam bentuk
bahan baku, bahan mentah, bahan penolong, suku cadang, atau barang dagang.
Contoh : sebuah pabrik gula memasok bahan
baku tebu dari petani tebu
b. supplier-manufacturer (chain 1-2)
rantai pertama tadi dilanjutkan dengan
rantai kedua, yaitu manufacturer yg merupakan tempat mengonversi ataupun
menyelesaikan barang (finishing).
Contoh : tebu diolah dalam pabrik dengan
menggunakan berbagai macam teknologi pengolah untuk menjadikannya gula.
c. supplier-manufacturer-distributor (chain
1-2-3)
dalam tahap ini barang jadi yg dihasilkan
disalurkan pada pelanggan, di mana biasanya menggunakan jasa distributor atau
wholesaler yg merupakan pedagang besar dalam jumlah besar
contoh : setelah menjadi barang jadi (gula)
maka pabrik akan menyalurkan gula tersebut melalui distributor atau wholesaler
(pedagang besar)
d.
supplier-manufacturer-distribution-retail outlets (chain 1-2-3-4)
dari pedagang besar tadi barang disalurkan
ke toko pengecer (retail outlets).
Contoh : distributor atau wholesaler tersebut
akan menjual gula ke toko kecil yg lebih dekat dengan konsumen
e.
supplier-manufacturer-distribution-retail outlets-customer (chain 1-2-3-4-5)
pelanggan merupakan rantai terakhir yg
dilalui dalam rantai pasokan, dalam konteks ini sebagai end-user. Pada rantai
ini, terjadi transaksi antara retailer dan pelanggan yg meliputi seluruh proses
yg secara langsung meliputi penerimaan barang sekaligus memenuhi permintaan
pelanggan.
Contoh : toko-toko kecil akan menjualnya ke
konsumen dengan cara ecer.
Jadi ringkasan dari contoh diatas adalah
sebuah perusahaan pabrik gula memasok bahan baku gula (tebu) dari petani tebu
untuk kemudian diproses didalam pabrik menggunakan teknologi dan SDM yg
tersedia. Setelah bahan baku (tebu) menjadi barang jadi (gula), perusahaan akan
menyalurkan gula tersebut ke konsumen melalui distributor atau wholeseller
(pedagang besar), lalu distributor atau wholeseller akan menyalurkan gula
tersebut ke toko-toko kecil yg lebih dekat dengan konsumen (biasanya bersifat
grosir). Barulah toko-toko kecil tersebut akan menjual gula tersebut ke
konsumen dalam bentuk ecer.
Komentar
Posting Komentar